Bangsal

Apakah ada bangsal di omnipre?
Tempat membaca Ba-i-Jibril
Menahan rindu
Dan mewahyukan diri?

Masihkah ada aku diingatanmu?
Pejuang gagalis, antar ruang dan waktu
Demi melakar habis
Cumbu-rayu falsafah hidupmu?

Advertisements

Eu-topia dan Kamu

Ada satu rasa setelah hujan reda
Seakan di penjuru Bordeaux
Berjalan sendirian di belahan Tarim
Nikmatnya stimulasi sepertiga jam dua-belas bumi
Langit yang baru untuk mimpi yang panjang;
Alam yang baru setelah yang lama terbentang
Harum bahasa, harum eutopia
Tamu yang jauh dari Andalas
Hanya tea, hanya kamu
Tak teralas tapi terbatas
Mereguk yang jatuh dan tak terlihat
Entah apa, entah bagaimana rupanya
Tak perlu suara, tak perlu jemu
Semuanya tlah ternikmati
Menunggu pagi, menunggu pergi

Alwah

76FA968C-C8A7-4AA8-A4E0-15CDA1A4567C.jpg

Telah dilepas belenggu, kini yang maujud hanya lah baid; antara kau dan viento
Tak lagi ada bimbang pada yang semu
Dalam memadam punah sang incidious; Hasad-hasad kudus. Hasrat yang terutus dari sang pencemburu; penyentap hijab; perembus kiri dan lantera Paulus;

Penantang tersial di gelanggang asbab

Tanzihku hanya sekardus hampa tak terisih, untukmu, yang termampu hanya sebuku taksa—
Biar berhembus menjadi jiwamu
Biar subur di rahim rahsa
Membesar memeluk sebab
Menua menghapus sireh

Tanpa filo, yang hidup subur pun enggan mengering; yang sirna tak juga rela terbit; secunda kekal secunda; dirimu hanya dirimu
Lalu siapa yang berharap kecundang pada akhir yang genting?
Siapa yang dapat menulis amtsal di atas asfal yang mengigit?

Gelap malam menjadi kafan
Kelambi samar mata yang diam
Taksa diktaktor, lubang hitam-nya gatra parewa
Pintu-pintu pengungsi dari balik hausi, paruh-paruh falco, peradu sang dewa yang mati pasrah. Tumit thanatos ambiguos
Khayalan asphisiasi retorikanya sekalian qosshosh

Andai ritorno mengelar lehermu
Ketahuilah penyebab destruksi hanya pedamba serapah ejakulasi. Kau mengenal Pencinta. Kau penanti eterno. Kau pembelai bufeo
Bukan kreasi wirkungen variasi credo buto

Telah hampir sirna kabut belenggu; Nafasmu itu tasbih essere yang tak pernah jemu. Sedari; Dirimu kekal di-kulminasi tertinggi jari sang perindu; Tanpa espero. Tanpa tetrahydrocannibino
Dirindui. Dipeduli. Digerimisi waqt; mahiyah ihsaas hakikat wahdat

Maka tinggalkan ousia— pedulikan ralat

Kau tak dipersia untuk sia-sia; Kau tahu cinta dapat membuat kau hidup sedekad lagi. Lantunkan lah se-nostalgia ghazalnya al mahabbah wa al syauq
Bermula dengan yang alif; Asali hanif. Hissíyah— samawati wal ardh. Hafali yang bersusun lewat tabir suci. Renangi selautan dasar meniduri dzawq
Biar kecewa tak lagi sanggup
Menambah belenggu dan mengecewakanmu

Catatan 49

Processed with VSCO with a6 preset

Ombak yang berhempas mengulang falasi dan bintang-bintang kini karam
Ayatul Kursi— Segulung memori
Unggun api dah pun terpadam namun tali gitar masih bergetar di hujung jari
Enigma, badai yang membekas
Dalam gelap ia merintih. Dalam diam, ia berdamai
Demi kesunyian, yang tak akan pernah rela pada sepi

Aku bukan lagi Jung, dan tangan Pablo-mu tak selamanya mententeramkan
Bila cahaya di langit hampir menyeliputi, siapa lagi yang tercetus agar ia dirindui?

/ Disember 10, 17.
Kota Tinggi

An Sich (i)

Kita mencakup keseluruhan—
Durasi kekeliruan dan keyakinan
Segala bentuk pantulan dan bayangan
Sebuah narasi dan sintesa
Yang sepenuhnya memadu di atas kanvas
Memuat keterbatasan dan kebebasan
Hanya yang Tak Ada dapat mengatakan ia Tak Ada
Selebihnya palingan demi palingan
Candu-virtual; Bibit-fatamorgana
Dari kecacatan pandang konstelasi
Penyangkalan demi sangkalan
Pencanggahan demi canggahan
Yang pernah dahulu dibacakan

Yer Blues Man, Yer Blues

 

Pe-masa itu berbagi dua
Antara singkat atau ce-pat
Dan jauh itu hanyalah waktu
Yang memperlambatkan sesuatu
Jangan di tunggu

Aiman Sharum

Processed with VSCO with a6 preset

— Diri-kan, dan jangan robohkan. Tutup yang terbuka dan pelihara sebaik mungkin. Jika ada yang tak seimbang dalam komposisi, cari solusi dengan skala dan cuba bentuk the golden mean. Tetaplah dengan simetri. Tak semua yang kita bina dapat kekal sampai pada masanya tanpa sedikit imbauan, analisa, diskriptif, bahkan penyerahan. Tak mustahil juga jika suatu hari kita sendiri yang meruntuhkan-nya. Tapi sekurang-kurangnya semuanya semata ‘jika‘ dan kita tahu; tanpa beri ruang ‘pada-nya‘ untuk ‘ada‘, semuanya akan okay dan tak ada apa-apa yang perlu dirisaukan.

Selamat membebaskan syawat dari belenggu-nya dan kau tak perlukan drafter (rencana) lagi untuk itu; Tahniah dah melengkapkan iman mennn. Bila ia bukan lagi tentang ‘cinta‘ mula fikirkan komunikasi— dan biarkan neutral; Sesuatu yang kau dapat nikmati sampai hari tua dan lahirkan si cilik-si cilik super sambil merai kasidah dengan latar-belakang blues. Ia dah cukup untuk satu durasi.

Kita pernah tak berpeluang untuk serasi di lantai hingga naik ke pentas (circa 2006) Extra, aku juga mungkin tak dapat hadir untuk resepsi. Apa pun, tempuhi dengan baik dan semoga yang baik-baik akan sentiasa bersama kalian. Dan harapnya ada suatu masa di lain waktu untuk kita bertemu.

Sooner or later.
Jika pada-Nya ada cinta

Xo

Maitalea

Ranumnya bisik
Suara-mu di shanaubar
Bandar tak bergema
Strata-nya jiwa
Musim bunga t’lah tiba
O’ Maitalea
Rum atau teh?
Teman atau kaseh?
Di sini berguguran
Di sisi bermekaran
O’ surya lathifah
Singgah lah sebentar
Dan janganlah berpaling
Kau jantung semesta
Strata-nya jiwa
Yang—
Ampuni

/12 rabi’ul awwal

Nadi Rahsa

Nafas tak diregut oleh yang terpisah
Jiwa tak berdiam di ruang absurd
Akal cuma pengemis
dan akan terus mengemis pada yang tersembunyi—
Secebis antropia anfalpi
Selirat-selirat cahaya
Nadi rahsa, senyawa mutlak
Tempat tibanya yang tak berjarak
Tempat suburnya tandus nurani
Jam-jam mengadu; waktu-waktu menyusu
Merapuh saraf cerminan yang retak
Membolak keghaiban menyingkap yang nyata

Kalian matahari dan bulan;
Kalian langit dan bumi;
Kalian adam dan hawa;
Kalian hamba-hamba yang mengimbang paskal dan tujuan
Bukankah yang dapat dilihat hanya igauan
Mengapa ada dendam pada yang tak ada?

I Beg Young Boy

Processed with VSCO with a6 preset

To yaung-mate

Bila kau tak dapat apa yang kau nak, itu maknanya kau sedang hadap apa yang Dia nak. Dan apa saja yang Dia nak, itu baik untuk kau meski kau belum nampak. Kita terlalu relatif untuk faham. Kita tak cukup sadar untuk nampak. Kita perlu masa, tapi kita tak tahu apa-apa tentangnya; Saran sebatas saran dan ia tak dapat jadi lebih dari itu meski ia tegas, itu kerana yakin bukan paksaan; Nasihat tak ada untuk dipercaya, nasihat ada untuk diterima.

Pedulikan dulu waktu tidur dalam perjalanan malam yang panjang dan lupakan jam-jam seterusnya. Waktu terkurung cukup afdal untuk cetuskan pelbagai persoalan yang boleh beri kau pengajaran; Seperti mengapa papan notis kekal konsisten diletakkan berulang-kali hanya untuk mengingatkan kita supaya tetap berhati-hati walaupun kenyataannya kita masih boleh pecut tak sedarkan diri sesuka hati dan berdentum tanpa sesiapa pun jadi penghalang. Kita tahu kita tak hanya memandu kenderaan, kita juga memandu diri. Dan diri, perlukan peringatan.
Semua itu terpulang sejauh mana kau dapat menyikapinya.

Pergi lah ke mana pun, buat lah apa pun, dan jadi lah apa pun selagi ia menenangkan; kehidupan hanya gurau-senda, tapi manusia tak tiba-tiba dan sia-sia.

John lennon, henry rollins, mereka semua pernah perah otak cari idea untuk rayu orang pergi mengembara— cuma lagi best bila sebenarnya Dia sendiri yang suruh kita mengembara. Mereka tak ada untuk apa yang kau perlu, yang ada cuma Dia. Percayakan Dia, macam kau percayakan train yang boleh bawak kau sampai tujuan.

Aku tak bergurau bila aku kata aku rindukan nasihat, itu sebab aku lupa Dia dan aku tak nak kau rasa hausnya; Pergi lah lagi jauh, jarak dan keluasan itu bagus; keluar lah sampai jumpa fitrah; keluar lah tapi jangan tanpa Dia.