Asfal Fana

Telanlah harp,
Lagu-lagu cuma akan mengundang haru.
Seperti akustika, dan lirik-lirik yang pernah menidurkan.
Di sini, rindu-rindu sedang menderu di bawah awana, berselimut—
berhempasan,
Terlihat langit dan air yang sangat biru.
Di sini, angin berlalu kencang, berdesir seirama.
Sertai lah ia, lalu hanyutkan aku. Hanyutkan aku.

/ April 13, 17.
Pantai Nunggalan

Advertisements

Asy-Syakuur

To Ahasveros

Jalan-jalan yang panjang seolah-olah waktu, yang bersatu dengan struktur transendan. Padu, tapi kelemahannya ialah ia menjadi sungguh perlahan seolah-olah perjalanan adalah potongan-potongan adegan dengan efek slowmo-
Menunda-nunda.
Diiringi rasa ngantuk yang meluap.
Tapi setelah lelah dapat lenyap,
Damai di Asy-Syakuur berupa nikmat yang lebih nikmat dari apa yang kita jumpa di pantai selatan.

Kesunyiannya, haruman-haruman dhamir yang (sebenarnya)
Kelakar.

Tapi, teman kesadaran adalah kesunyian.
Seperti Surabaya yang
Sendiri.

Setelah Asy-Syakuur menghentikan rungutan;
Setelah panas matahari mengelilingi tekstil-tekstil ganjil milik penarik gerabak yang murung,
Setelah itu lah, bisik yang lebih perlahan dari semua ini terdengar,
“Jangan,
Jangan merungut dengan ketentuan-Nya”

Dan kerana itu-lah
Pertama kali kita menjejaki Surabaya
Yang menyambut kita cuma sisi sepinya.

Processed with VSCO with a6 preset

/ April 10, 17.
Surabaya (Re)

Rabbi (II)

Penghujung malam itu, aku lihat pohon-pohon mengeletar tapi syurga bukan untuknya– bukan untukku—tapi azab bagaikan semalam, sehingga tak satu pun yang tinggal. Tak satu pun yang kekal. Tak satu pun yang setara;
Tapi pohon-pohon mengeletar di penghujung malam lalu aku lihat Engkau.
Adalah wajah-Mu Rabbi,
Kerana wajah-Mu dan demi wajah-Mu,
Aku pun rela melentur,
menjadi abu.