Tak Lebih Mulia dariKu

Tak ada yang lebih mulia darimu
Anjing di Prianga, surya di pelukku
Tak ada yang lebih mulia darimu
Putung asfal Sosrowijayan, sepotong roti di Prahu

Kerana semua sudah lebih suci,
Maka tak ada yang lebih mulia, dari-Ku

/ April 06, 17.
Masjid Besar Cipaganti

Advertisements

Un-nawaitu

Terista masih tersisa
Pada yang menyentuh buku
Pada yang menyentuh rubik
Cubo de hopeless
Raut yang tenang tanpa nabati
Serumit kosmos eksternaliti
Rumusnya algoritma ruhaniyah
Kanvas nan maya
Yang melukis, dilukis, terlukis
Yang melayang, hening… terbang
Yang ketika merenung
Sepertiga tigris turut terhiris
Sssshhh…

Anugerah,
Hujah wajahmu telah disirat
Hijab jiwamu telah tersingkap
Namun dukacita tetap untukku
Separuhnya gemerlap
Separuhnya gundah merindu
Lavado de cerebro,
Katamu
Cukup se-malam, perasaan kita seranjang.
Semudah itu?
Ars longa vita brevis sayang
Hidup lah terus dalam seni
Dan jangan jadi lelaki
Sindirmu

/ April—Sep, 17.
Segget, JB

Tamu

Processed with VSCO with a6 preset

Hujan mentakar asfal tapi kenihilan masih hangat berselubung. Raut-raut menjadi payung di vena untuk langkah yang rendam.
Keasingan terhunus dan bayang-bayang kelelahan;
Sementara hidup sedang dinikmati-
Sementara hujan turun dengan tenang.

Puluhan nestapa, dan malam berdengkur.

Jalanan berubah, tempias permata tak terasa. Warna-warna neon melenturkan pekat dan bandar mendongeng refleksi.
Hujan bukan lagi penghalang, justru aroma dan gelorannya membuat jutaan dada menjadi lapang.
Di mana-mana pun, di mana-mana pun sepi hanyalah satu kata untuk majoriti; hujan hanyalah ubat untuk pepohonan yang tandus.

Satu tetes- dua tetes-
Orang-orang berlarian dan
Mengeluh.

Meredah hujan bukanlah perkara kurang siuman di bandar sebesar ini, tapi tak terlihat satu orang gila pun yang sebegitu gilanya untuk berteriak di bawah rintik hujan
Dan tak ada pula yang lebih gila
Dari mereka yang bergadang
Libur setengah bulan melawat kenihilan.

/ April 06, 17.
Pasir Kaliki, Bandung