The Lonely Planet

Processed with VSCO with a6 preset

Ringgit, dollar, dirham-dirham,
Terjaja di lereng-lereng, setelah digit, dan darjat-darjat. Dua-puluh-tiga kilometer kemudian, yang terasing cuma
Kiblat.

Dari mengwi ke legian
Dari seminyak ke arthawan
Perarakan dinihari menjadi barisan platon
Yang sumbang.
Dari timur ke barat
Dari kuta ke ubung
Setan-setan merakus,
Menyantap pura tua yang malang.
Membahan habis nurani,
Yang dihidang dengan dulang.
Tinggal orang-orang dan nyepi;
Menghembus ilusi ke telinga yang tuli, dengan lidah yang terjuir, dengan kelu yang bertindih.
Berkerah dan berhimpun
Memenifastasikan
suguhnya khaylan.

Kerana budaya, katanya, kerana tradisi,
Pemikiran harus terus lumpuh demi meneruskan anggapan-anggapan yang telah hidup berdekad-dekad lamanya di atas seni dan zaman.
Hati harus tetap tunduk pada ukiran-ukiran imaginatif dengan wajah yang menyeramkan dalam kegelapan.
Kerana nafsu katanya lagi,
adalah dua hal yang berbeza.

Tapi tak pernah sama apa yang ada di langit,
Dan di bumi.

Jalan-jalan yang tadinya menawarkan sepi, kini cuma lubuk keterdesakan dan gerhana.
5,561 km—
Terlalu luas, tapi terasa sempit.
Tempat segala mergas tua berkumpul, dan darah-darah diminum kraton
Tempat turis-turis bertelingkah,
Dan pemabuk jalan poppies dipapah;
Peragut tak bertauliah. Pelucu yang tak lelah.

Keindahan berelus tinggal tanggapan.
Tentang lampu diskotik dan tatoo-tatoo.
Orang-orang tak dapat menyembah yang Satu, tapi nafsu untuk seorang-satu.
Di rumah-rumah, di batu-batu, di balik perbukitan dan sawah-sawah, yang ditatap adalah kiasan
Seperti kepercayaan hanyalah hiasan.

Pasir-pasir hitam membungkam. Pasir jerlus.
Dua-puluh-tiga kilometer kemudian,
wajah lautan menjadi hamparan,
Pusat bertimbunnya titik-kegelapan; Seperti selamanya manusia akan tetap termanggu,
setelah selesai menentukan harga diri.

/ April 12, 2017.
Losmen, Bali

Advertisements

Tamu

Processed with VSCO with a6 preset

Hujan mentakar asfal tapi kesepian masih hangat berselubung. Raut-raut menjadi payung untuk rasa yang terendam di vena terujung. Puluhan nestapa dan sebuah bandar berdengkur.
Sementara hidup sedang dilewati-
Sementara hujan turun dengan tenang.
Jalanan berubah dan gugusan permata bertempiasan,
Warna-warna neon bercampuran dan malam-malam penuh refleksi.
Hujan tak pernah menghalang, justru aroma dan gelorannya membuat jutaan dada menjadi lapang.
Di mana-mana pun, di mana-mana pun sepi hanyalah satu kata untuk sebuah majoriti; hujan hanyalah satu ubat untuk pepohonan yang tandus.
Orang-orang berlarian dan
Mengeluh.

Satu titis- dua titis-
Keasingan telah terhunus,
Dibalik guarnina dan bayangan kelelahan.
Meredah hujan bukanlah perkara kurang siuman, tapi tak ada satu orang gila pun yang terlihat berteriak di bawah rintik hujan di bandar sebesar ini.
Dan tak ada pula yang lebih gila
Dari mereka yang bergadang
Libur setengah bulan melawat kenihilan.

/ April 6, 17.
Pasir Kaliki, Bandung

Sebuah Kerusi Dan Fajar Terakhir

Berguguran aster
Jatuh menimbun di rel-rel langka
Yang tak sepenuhnya sunyi
Dari perjalanan penuh emosi

Fajar di jember,
Subuh yang asing.

Matahari belum terlihat
Tapi orang-orang sudah berkerumunan
Merebut tujuan
Demi tujuan
Yang tersimpan didalam saku yang lainnya.

Dan sudah beberapa juta kali juga
Orang-orang itu melupakan Mas Yanto.
Melupakan seorang penenang
Yang berjalan cepat.

Dingin mengejutkan
Seperti alam satu-satunya penganti
Jika adzan tak dikumandangkan.
Fajar terakhir,
Subuh yang dirindukan.

Aku kira,
Segala perih punggung orang-orang
yang pernah duduk menanti di kerusi ini sebelum benar-benar dipisahkan
telah habis kumamahi dengan dua hari bermalam dengannya.

Lalu aku berkata padanya,
Pada sebuah kerusi,
“Semoga Tuhan merahmati kamu dengan segala kemuliaanNya, yang denganNya seribu pengembara setelahku dapat tidur lena bersamamu tanpa diratahi nyamuk-nyamuk gersang, dan semoga 80not mereka tak dihabisi hanya untuk satu mimpi ngeri.”
Kemudian adzan subuh berkumandang,
Dan lelah pun sirna.
Seketika—

Processed with VSCO with a6 preset

/ April 17, 17.
Stasiun Jember JR

Kita Semua ‘Stress’

Processed with VSCO with a6 preset

Aduh, Stress kamu!
Kata salah sorang brader pantai setelah mendapat tahu kami berjalan kaki dari terminal mengwi ke pantai kuta diakhiri dengan kami semua tertawa sambil meneguk tubruk.

Petang mengharukan, beberapa pelatih papan luncur tak terluncur melayan karenah turis yang kebosanan menunggu ombak tiba. Sekaki, atau sekurang-kurangnya tiga atau empat kaki untuk satu sesi luncuran agar 100rupiah menjadi berbaloi.
Seekor anak anjing berkejaran dengan tin-tin kosong. Seorang ayah kehilangan anaknya. Di bawah payung-payung teduh, lagu-lagu dinyanyikan, dan semua orang sudah pun lena dalam pekatnya kesyahduan. Akustika tak lagi memecah kesunyian, malah menjadi asbab kesunyian yang mengigit meski malam belum tiba.

Dan disaat-saat seperti itu yang tinggal setelah kepuasan mencapai hadnya, atau setelah keinginan terlunaskan tanpa wujudnya keinginan-keinginan yang lain, atau setelah definisi kepelbagaian berakhir di puncaknya hanyalah kematian. Tapi untuk memahami hikmah sebelum kematianlah yang menjawabnya, kita perlu ‘stress’. Kita perlu rasa tertekan untuk menikmati tekanan-tekanan itu sendiri kerana (sememangnya) kita semua ‘stress’.

/ April 14, 17.
201, Losmen Arthawan

Lovefool

To Good and Bad -Friends

“Kau dengar?”
“Yup, Lovefool.”
“Ia ada kat mana-mana sekarang.”

Di dalam bilik yang kedap ruang, ketika thc bercelaru dan kita semua bagaikan serdadu yang berkumpul di syurga. Di bits&bobs, yang dulunya cuma puing setengah hasta tempat orang-orang berteduh dari hujan demi secangkir mitos dan secebis inspirasi. Di penjuru-penjuru sulit ipoh, di atas sepinggan nasi ganja, di behrang, di sebuah sahara yang terbentang di dalam kepala. Ah, lovefool.

Tiga hari berturut-turut ia terdengar rawak. Dari johor ke behrang kudus; dari sungai dara ke ipoh; dari fraser ke pagoh. Ada apa dengan Am?
Ada apa dengan bait, reason will not teach a solution?

Sick,
Harap Tuhan sedang bergurau dan kita cuma sedang mabuk jalan.

Tapi dengan Lovefool,
Selain tercairi bidadari malam itu, mendengarnya kembali seperti melihat sebuah rakaman yang diulang-ulang; kita di masa-lalu.

/ January 6, 15.
Pasir Gudang

 

Maqam

Yang kau lihat cuma hamparan lautan, dari puncak yang melelahkan, dan berdozen-dozen manusia yang berapungan,
Dalam tidurnya.

Beruntunglah mereka yang sadar,
Yang dapat mengembangkan kedua belah sayapnya menuju langit tak berujung,
Tak bertepi
Tak berkubur

Dan berbahagia lah mereka yang dapat bernafas ke dasar, melihat khazanah, melihat hakikat. Di mana sempadannya adalah semesta, tempat segala-galanya berkumpul!

Tetapi berkabung lah,
Berkabung lah kalian bersama realiti,
Seperti selamanya kota ini akan diselubungi kepedihan,
Menunggu siang dan malam berganti
Menunggu entah apa yang terjadi,
Ketika lautan rohani pun tak mampu untuk direnangi.

/ April 7, 17.
Lereng enteng

Asfal Fana

Telanlah harp,
Lagu-lagu cuma akan mengundang haru.
Seperti akustika, dan lirik-lirik yang pernah menidurkan.
Di sini, rindu-rindu sedang menderu di bawah awana, berselimut—
berhempasan,
Terlihat langit dan air yang sangat biru.
Di sini, angin berlalu kencang, berdesir seirama.
Sertai lah ia, lalu hanyutkan aku. Hanyutkan aku.

/ April 13, 17.
Pantai Nunggalan

Asy-Syakuur

To Ahasveros

Jalan-jalan yang panjang seolah-olah waktu, yang bersatu dengan struktur transendan. Padu, tapi kelemahannya ialah ia menjadi sungguh perlahan seolah-olah perjalanan adalah potongan-potongan adegan dengan efek slowmo-
Menunda-nunda.
Diiringi rasa ngantuk yang meluap.
Tapi setelah lelah dapat lenyap,
Damai di Asy-Syakuur berupa nikmat yang lebih nikmat dari apa yang kita jumpa di pantai selatan.

Kesunyiannya, haruman-haruman dhamir yang (sebenarnya)
Kelakar.

Tapi, teman kesadaran adalah kesunyian.
Seperti Surabaya yang
Sendiri.

Setelah Asy-Syakuur menghentikan rungutan;
Setelah panas matahari mengelilingi tekstil-tekstil ganjil milik penarik gerabak yang murung,
Setelah itu lah, bisik yang lebih perlahan dari semua ini terdengar,
“Jangan,
Jangan merungut dengan ketentuan-Nya”

Dan kerana itu-lah
Pertama kali kita menjejaki Surabaya
Yang menyambut kita cuma sisi sepinya.

Processed with VSCO with a6 preset

/ April 10, 17.
Surabaya (Re)

Di Pulau Cindai

Aku terbawa badai,
Di pulau cindai.

Setelah sebatang rokok
Buat mamat eropah,
Dan segulung moroko
Buat anak salang.

Aku merenung ke dada langit,
Meminta darla; meminta yang tenang.
Ketika desir ombak bersarana
Ketika langsurya melebur
Terbakar janji.

Lalu tubuhku rebah
Diantara kashmir
Dan bintang-bintang,

Lalu diriku pulih
Dari jemu yang lama
Menerkam.

/ Mei 18, 15.
Salang