Sebuah Kerusi Dan Fajar Terakhir

Berguguran aster
Jatuh menimbun di rel-rel langka
Yang tak sepenuhnya sunyi
Dari perjalanan penuh emosi

Fajar di jember,
Subuh yang asing.

Matahari belum terlihat
Tapi orang-orang sudah berkerumunan
Merebut tujuan
Demi tujuan
Yang tersimpan didalam saku yang lainnya.

Dan sudah beberapa juta kali juga
Orang-orang itu melupakan Mas Yanto.
Melupakan seorang penenang
Yang berjalan cepat.

Dingin mengejutkan
Seperti alam satu-satunya penganti
Jika adzan tak dikumandangkan.
Fajar terakhir,
Subuh yang dirindukan.

Aku kira,
Segala perih punggung orang-orang
yang pernah duduk menanti di kerusi ini sebelum benar-benar dipisahkan
telah habis kumamahi dengan dua hari bermalam dengannya.

Lalu aku berkata padanya,
Pada sebuah kerusi,
“Semoga Tuhan merahmati kamu dengan segala kemuliaanNya, yang denganNya seribu pengembara setelahku dapat tidur lena di atasmu tanpa diratahi nyamuk-nyamuk gersang, dan semoga 80not mereka tak dihabisi hanya untuk satu mimpi ngeri.”
Kemudian adzan subuh berkumandang,
Dan lelah pun sirna.
Seketika—

40E12CA7-1B4E-4064-95CC-04E423AF1FAB.jpg

/ April 17, 17.
Stasiun Jember JR

Kita Semua ‘Stress’

6E1F3089-661F-4BFE-8FA3-8FA53F237D9D.jpg

Stress kamu!
Kata salah sorang brader pantai setelah mendapat tahu kami berjalan kaki dari terminal mengwi ke pantai kuta diakhiri dengan kami semua tertawa sambil meneguk tubruk.

Petang mengharukan, beberapa pelatih papan luncur tak terluncur melayan karenah turis yang kebosanan menunggu ombak tiba. Sekaki, atau sekurang-kurangnya tiga atau empat kaki untuk satu sesi luncuran agar 100rupiah menjadi berbaloi.
Seekor anak anjing berkejaran dengan tin-tin kosong. Seorang ayah kehilangan anaknya. Di bawah payung-payung teduh, lagu-lagu dinyanyikan, dan semua orang sudah pun lena dalam pekatnya kesyahduan. Akustika tak lagi memecah kesunyian, malah menjadi asbab kesunyian yang mengigit meski malam belum tiba.

Dan disaat-saat seperti itu yang tinggal setelah kepuasan mencapai hadnya, atau setelah keinginan terlunaskan tanpa wujudnya keinginan-keinginan yang lain, atau setelah definisi kepelbagaian berakhir di puncaknya hanyalah kematian. Tapi untuk memahami hikmah sebelum kematianlah yang menjawabnya, kita perlu ‘stress’. Kita perlu rasa tertekan untuk menikmati tekanan-tekanan itu sendiri kerana (sememangnya) kita semua ‘stress’.

/ April 14, 17.
201, Losmen Arthawan

Lovefool

To Good and Bad Old-Friends

“Kau dengar?”
“Yup, Lovefool.”
“Ia ada kat mana-mana sekarang.”

Di dalam bilik yang kedap ruang, ketika thc bercelaru dan kita semua bagaikan serdadu yang berkumpul di syurga. Di bits&bobs, yang dulunya cuma puing setengah hasta tempat orang-orang berteduh dari hujan demi secangkir mitos dan secebis inspirasi. Di penjuru-penjuru sulit ipoh, di atas sepinggan nasi ganja, di behrang, di sebuah sahara yang terbentang di dalam kepala. Ah, lovefool.

Tiga hari berturut-turut ia terdengar rawak. Dari johor ke behrang kudus; dari sungai dara ke ipoh; dari fraser ke pagoh. Ada apa dengan Am?
Ada apa dengan bait, reason will not teach a solution?

Sick,
Harap Tuhan sedang bergurau dan kita cuma sedang mabuk jalan.

Tapi dengan Lovefool,
Selain bidadari malam itu, mendengarnya kembali seperti sedang melihat sebuah rakaman yang diulang-ulang; kita di masa-lalu.

/ January 6, 15.
Pasir Gudang

 

Maqam

Yang kau lihat cuma hamparan lautan, dari puncak yang melelahkan, dan berdozen-dozen manusia yang berapungan,
Dalam tidurnya.

Beruntunglah mereka yang sadar,
Yang dapat mengembangkan kedua belah sayapnya menuju langit tak berujung,
Tak bertepi
Tak berkubur

Dan berbahagia lah mereka yang dapat bernafas ke dasar, melihat khazanah, melihat hakikat. Di mana sempadannya adalah semesta, tempat segala-galanya berkumpul!

Tetapi berkabung lah,
Berkabung lah kalian bersama realiti,
Seperti selamanya kota ini akan diselubungi kepedihan,
Menunggu siang dan malam berganti
Menunggu entah apa yang terjadi,
Ketika lautan rohani pun tak mampu untuk direnangi.

/ April 7, 17.
Lereng enteng

Asfal Fana

Telanlah harp,
Lagu-lagu akan membuatmu haru.
Seperti akustika, dan lirik-lirik yang pernah menidurkan.
Di sini, rindu-rindu sedang menderu di bawah awana, berselimut—
berhempasan,
Terlihat langit dan air yang sangat biru.
Di sini, angin berlalu kencang, berdesir seirama.
Sertai lah ia, lalu hanyutkan aku ke dalam dakapmu.

/ April 13, 17.
Pantai Nunggalan

Asy-Syakuur

To Ahasveros

Jalan-jalan yang panjang seolah-olah waktu, yang bersatu dengan struktur transendan. Padu, tapi kelemahannya adalah ia menjadi sungguh perlahan seolah-olah perjalanan adalah potongan-potongan adegan dengan efek slowmo-
Menunda-nunda.
Diiringi rasa ngantuk yang meluap.
Tapi setelah lelah dapat lenyap,
Damai di Asy-Syakuur adalah nikmat yang lebih nikmat dari apa yang kita jumpa di pantai selatan.

Kesunyiannya, haruman-haruman dhamir yang sebenarnya
Kelakar.

Tapi, teman kesadaran adalah kesunyian.
Seperti Surabaya yang
Sendiri.

Setelah sedar rungutan-rungatan berakhir di Asy-Syakuur;
Setelah panas matahari mengelilingi tekstil-tekstil ganjil milik penarik gerabak yang murung,
Setelah itu lah, bisik yang lebih perlahan dari semua ini terdengar,
“Jangan,
Jangan merungut dengan ketentuan-Nya”

Dan kerana itu-lah
Pertama kali kita menjejaki Surabaya
Yang menyambut kita adalah sisi sepinya.

061DE81D-9DCF-48A3-BC7F-CB1FC3123F2F.jpg

/ April 10, 17.
Surabaya

Di Pulau Cindai

Aku terbawa badai,
Di pulau cindai.

Setelah sebatang rokok
Buat mamat eropah,
Dan segulung moroko
Buat anak salang.

Aku merenung ke dada langit,
Meminta darla; meminta yang tenang.
Ketika desir ombak bersarana
Ketika langsurya melebur
Terbakar janji.

Lalu tubuhku rebah
Diantara kashmir
Dan bintang-bintang,

Lalu diriku pulih
Dari jemu yang lama
Menerkam.

/ Mei 18, 15.
Salang

What Youth, and The Dark Forest

Khemah-khemah ditinggal menyepi. Kopi dalam kuali, maggi dengan rasa bateri. Kita kemudian meredah belantara-paranoia, menuju ke satu tempat di mana sungai mengalir dan waktu terasa lambat. Dari puncak yang tiada. Dari ketinggian yang membunuh.

Kita melihat batu-batu membentuk sebuah kolam dengan cahaya-cahaya yang berkilau, jam dua pagi, di atas permukaan yang jernih. Seperti satu tragedi akan bermula dengan santun anarkisme. Membungkam sebuah kerajaan yang menggigit, di sebuah kayangan yang terpinggir.
Lalu rokok-rokok dinyalakan, tubuh-tubuh bersandaran. Dan pekat malam larut dalam perbualan yang genting, tak terkena rasa dingin. Seolah-olah tersesat di rimba,
but it’s okay.

Dalam sekejap, kita terbau harum marijuana dari celahan-celahan pohon langka. Menusuk sebelum hanyut ke dasar; berhembus sebelum hilang kesamaran. Dan sadarkah, yang tetap terang waktu itu hanyalah
Bulan.

/ May 3, 15.
4800 ft, G.Pulai

Mary di Bangla Rod.

Processed with VSCO with a6 preset

Mary di atas meja, mary di dalam lemari, oh mary.
Ada yang memberi salam kemarin,
Di lorong lorong sunyi Bangla Rod
Di atas apungan samudera india-pasific
Yang disedut habis,
Ratusan metafora amerikan
Dengan misai mexikan.

Oh mary,
Penari-penari malam kebosanan
Bintang-bintang mula terpinggir
Dan dosa-dosa
Bagai marak api yang tak sanggup
Bertahan.

Pantai ini cukup memisahkan,
Berjejeran turis namun khayalan tak
Reda.
Liku-liku di Kathu hanya membuat kita
terhantuk ombak yang meng-gila.
Tapi kau tak juga tiba;
Tapi setengah a-baht-d
Hanya untuk polis-polis hampa.

Oh mary,
Ada yang memberi salam kemarin,
Tapi kau tak menjawabnya
Walau dengan satu isyarat
Kecuali tak kau biarkan kami mabuk laut
Menyedut hening di Karon.

/ Patong, Ogos 31.