Catatan 06

Bayang-bayang feloni telah tiba, jatuh menghukum tubuh, ketika dosa dan separa bumi harus ditelan lang-surya malam. Tubuh yang kering. Naif; dari semua prasangka.

Bintang-bintang tak lagi tegar,
Dan waktu tak akan pernah cukup walau kau datang meminjamkan sebatang rokok, C.
Segalanya akan lenyap, ditindas kegelapan.

/ November 20, 15. (Re)

Kita Semua ‘Stress’

6E1F3089-661F-4BFE-8FA3-8FA53F237D9D.jpg

Stress kamu!
Kata salah sorang brader pantai setelah mendapat tahu kami berjalan kaki dari terminal mengwi ke pantai kuta diakhiri dengan kami semua tertawa sambil meneguk tubruk.

Petang mengharukan, beberapa pelatih papan luncur tak terluncur melayan karenah turis yang kebosanan menunggu ombak tiba. Sekaki, atau sekurang-kurangnya tiga atau empat kaki untuk satu sesi luncuran agar 100rupiah menjadi berbaloi.
Seekor anak anjing berkejaran dengan tin-tin kosong. Seorang ayah kehilangan anaknya. Di bawah payung-payung teduh, lagu-lagu dinyanyikan, dan semua orang sudah pun lena dalam pekatnya kesyahduan. Akustika tak lagi memecah kesunyian, malah menjadi asbab kesunyian yang mengigit meski malam belum tiba.

Dan disaat-saat seperti itu yang tinggal setelah kepuasan mencapai hadnya, atau setelah keinginan terlunaskan tanpa wujudnya keinginan-keinginan yang lain, atau setelah definisi kepelbagaian berakhir di puncaknya hanyalah kematian. Tapi untuk memahami hikmah sebelum kematianlah yang menjawabnya, kita perlu ‘stress’. Kita perlu rasa tertekan untuk menikmati tekanan-tekanan itu sendiri kerana (sememangnya) kita semua ‘stress’.

/ April 14, 17.
201, Losmen Arthawan

Asfal Fana

Telanlah harp,
Lagu-lagu akan membuatmu haru.
Seperti akustika, dan lirik-lirik yang pernah menidurkan.
Di sini, rindu-rindu sedang menderu di bawah awana, berselimut—
berhempasan,
Terlihat langit dan air yang sangat biru.
Di sini, angin berlalu kencang, berdesir seirama.
Sertai lah ia, lalu hanyutkan aku ke dalam dakapmu.

/ April 13, 17.
Pantai Nunggalan