Nadi Rahsa

Nafas tak diregut oleh yang terpisah
Jiwa tak berdiam di ruang absurd
Akal cuma pengemis
dan akan terus mengemis pada yang tersembunyi—
Secebis antropia anfalpi
Selirat-selirat cahaya
Nadi rahsa, senyawa mutlak
Tempat tibanya yang tak berjarak
Tempat suburnya tandus nurani
Jam-jam mengadu; waktu-waktu menyusu
Merapuh saraf cerminan yang retak
Membolak keghaiban menyingkap yang nyata

Kalian matahari dan bulan;
Kalian langit dan bumi;
Kalian adam dan hawa;
Kalian hamba-hamba yang mengimbang paskal dan tujuan
Bukankah yang dapat dilihat hanya igauan
Mengapa ada dendam pada yang tak ada?

Advertisements

Tak Lebih Mulia dariKu

Tak ada yang lebih mulia darimu
Anjing di Prianga, surya di pelukku
Tak ada yang lebih mulia darimu
Putung asfal Sosrowijayan, sepotong roti di Prahu

Kerana semua sudah lebih suci,
Maka tak ada yang lebih mulia, dari-Ku

/ April 06, 17.
Masjid Besar Cipaganti

Rabbi (III)

Hari ini, zawiyah adalah sekunjur tubuh.
Antara hati dan akal.
Antara tenteram dan gelisah.
Ketika berahiku adalah kulit yang lembab,
Dibasahi nama-namaMu.

Telah aku nikmati bagaimana rasanya tenggelam,
Ke dalam lautan didaktik;
Ke dalam sumur suci milik kekasih-kekasih.
Yang kerananya aku mabuk
Dan tak pernah reda.

Seperti gelombang-gelombang
Yang tenang,
Memisah langit dan bumi.
Dari yang rendah,
Kepada yang tinggi.
Dari yang ada,
Kepada yang tiada.

Telah tersingkap keberadaan
Seperti badai yang sekejap
Namun dalam ketiadaan
Tetap Engkau yang aku rayu

Meminta yang bukan milikku.

Rabbi (II)

Penghujung malam itu, aku lihat pohon-pohon mengeletar tapi syurga bukan untuknya– bukan untukku—tapi azab bagaikan semalam, sehingga tak satu pun yang tinggal. Tak satu pun yang kekal. Tak satu pun yang setara;
Tapi pohon-pohon mengeletar di penghujung malam lalu aku lihat Engkau.
Adalah wajah-Mu Rabbi,
Kerana wajah-Mu dan demi wajah-Mu,
Aku pun rela melentur,
menjadi abu.