Tak Lebih Mulia dariku

Tak ada yang lebih mulia dariku
Anjing di Prianga, surya di pelukmu
Tak ada yang lebih mulia dariku
Putung asfal Sosrowijayan, sepotong roti di Prahu

Kerana semua sudah lebih suci,
Maka tak ada yang lebih mulia, dari-Ku

/ April 06, 17.
Masjid Besar Cipaganti

Advertisements

Balcón de Psyche

D3FE9757-BE61-4D3E-91DA-0ECA8006551E

Ibnu sina ke plato, the gang of three ke cogito, friedrich, rolling stone, kerouc, ke rebelution; semua itu ill. Semua itu sankris.
The zone, formal ke slackers, stripper ke lover, strangers, capone, budak flat ke backpacker; semua itu rem. Semua itu norma.
Chvas regal ke swing, nusantara ke cabbana, cassidy ecstasy, lsd, lush ke 9mm, grand thief auto ke kumuhan; semua itu samsara. Semua itu tajriba.
Pasir gudang ke java, golden palace ke little garden, kokaina, coke, the nature of mind-teh tarikss ke tubruk; semua itu historia. Semua itu sastera.
Friendship ke friendshit, skate ke patti smith, black to black, hope sndval, rum rage ke wirid; semua itu cacahan. Semua itu voyage.
20 st ke 21, si gila ke tun j, dari jemapoh ke manchester, mind palace, al baqarah, remember ke al-anbiya; semua itu kasta. Semua itu buskar.

Dari mp3 ke gitar, jazz ke blues, jari ke arkalik, realiti ke fiksi, relatif ke absolut, sober ke menara, alif ke ya, hayy ke spree, vivus ke mortuss, lantai ke pantai, kota ke pulau, feri ke train, jalanan ke tent, balkoni ke semesta—adam ke al-mahdi, tiada ke tiada, gelap ke cahaya, mardh ke cinta, dimensi, ruang, masa, fana ke baqa, jah ke Allah; semua itu embun; semua itu balkoni. The best phase, the best breath. Enam kosong tujuh, selamat musim tengkujuh.

Buih, Ombak, dan Pelayaran

Processed with VSCO with a6 preset

Semalam kita adalah sebahagian dari ombak-ombak besar yang saling berhempasan ketika lautan sedang ingin tenang. Kita dibadai ego tanpa memikirkan pelayaran-pelayaran sehingga memusnahkan peradaban, menghakis sejarah, lalu menghanyutkan diri sendiri ke dalam arus imajin yang cukup puitis. Kita tak pernah berfikir untuk menentangnya. Kita bahkan dimabukkan sang egois yang menyanyikan sihirnya di pantai-pantai kegelapan. Kita dihibur angan-angan; dibuai bahasa yang tak ingin kita fahami.
Kita juga rela mencium sampah dan membiarkan lautan menjadi sebuah neraka yang dengannya, kita masih bermimpi untuk tetap bergelora. Namun hari ini, tempelaknya kesadaran seakan mengingatkan bahwa kita hanyalah ombak-ombak besar yang akan berakhir menjadi satu tetesan, lenyap, dan hilang bersama buih-buih ketakutan.
Menanti dan berharap. Menanti dan berserah.

/ Januari 01, 17.
Batu Layar

Un-nawaitu

Terista masih tersisa
Pada yang menyentuh buku
Pada yang menyentuh rubik
Cubo de hopeless
Raut yang tenang tanpa nabati
Serumit kosmos eksternaliti
Rumusnya algoritma ruhaniyah
Kanvas nan maya
Yang melukis, dilukis, terlukis
Yang melayang, hening… terbang
Yang ketika merenung
Sepertiga tigris turut terhiris
Sssshhh…

Anugerah,
Hujah wajahmu telah disirat
Hijab jiwamu telah tersingkap
Namun dukacita tetap untukku
Separuhnya gemerlap
Separuhnya gundah merindu
Lavado de cerebro,
Katamu
Cukup se-malam, perasaan kita seranjang.
Semudah itu?
Ars longa vita brevis sayang
Hidup lah terus dalam seni
Dan jangan jadi lelaki
Sindirmu

/ April—Sep, 17.
Segget, JB

Syze

Katamu kaca mata itu sudah lusuh, tak lagi fit, dan semakin kabur. Anak matamu kini cuma sepasang kanta yang terbiar di antara hamparan-hamparan kertas. Dimamahi usia. Seakan dihakis lapisan memori sejauh ingatan-ingatan yang telah kau pimpin sepanjang asa– enam puluh enam tahun, mengantung ketidakjelasan.

Buku di tangan kau lepas, lampu dipadam dan, penjelasan kini hanya siluet. Cahaya samar liar yang merangkul tubuhmu sementara frekuensi radio menjawab emosi-emosimu dengan usul yang tak sejajar; membentuk doktrin-doktrin dangkal dan mengelirukan. Kemudian kau menyelinap ke dalam selimut seperti seorang filsuf yang keletihan– merenung jam dinding, mengingat satu tangan, mengingat satu detik, anak-anakmu dan dogma. Menunggu hidup, membuka rahang lebarnya seluas sagara.

Apapun yang tinggal, bagimu, hanyalah senyuman; Penawar untuk semua harapan yang memutih bersama setiap helai rambutmu. Pendinding esensi kekaburan. Kerana falsafah, katamu, tak lagi menyelamatkan apa-apa.

Malam itu kutekuni semesta, kata-katamu, antara qadha dan qadar, kenyataan dan kewarasan ketika ‘That Man Crying’ berulang bersama segulung espero di langit kamar yang sedikit rendah. Seredup bayang-bayang yang sempat kulihat di wajahmu sebelum pintu kamar kurapatkan. Sebelum kedua-dua matamu terpejam dan perasaanku turut lelap.

C7FEFC36-A237-44C8-AB2A-A04709B39772.jpg

/ Jun 9, 16.

Noktah

Maut tiba bagaikan petir. Berkilauan di langit dengan warna-warna yang gerih. Kenangan turut terpancar, tapi lupa dengan apa ia bersuara. Seperti subuh akan tetap bernafas, walau tak ber-nyawa.
Kita pejamkan mata; senada guruh menghilang di udara. Kemudian dalam kabut dan pejam, tak lagi kita meratap. Kecuali dengan nama

.
/ 1 Syawal, 17.
Kota Tinggi (Re)

K’ode’x untuk Rob

To Rabbani

Kemarin kita bertemu dan pintu-pintu langit terbuka, ‘jika kau dapat memandang dengan mataku nescaya bintang-bintang dapat kau tembus’. Namun beratnya kata ‘ibid’, sebelum kita dapat berbagi.
Akan selalu ada ‘minor’ bila dunia memilih ‘major’, (di setiap seratus tahun yang telah buta), ‘satu golongan’ dengan kesanggupannya memilih untuk ‘merempuh ragam abstraksi’, ‘memerangi kehendak sendiri’, sehingga perjalanan bagi mereka adalah tentang ‘kombinasi akal dan hati’. Pentafsir ‘perintah dan ketetapan’. ‘Agar terbela’ dan untuk membela.
Orang-orang yang kelihatannya mudah tertipu tapi hakikatnya sedang menggengam sesuatu. Orang-orang yang ‘bukan seperti bangau yang merenung seolah-olah tahu’.
Sama halnya, yang dikatakan peperangan cuma antara ‘yang haq dan batil’. Selain dari itu hanyalah ‘keserakahan, kebohongan, pencerobohan,
Dan penindasan’.
Maka percayakan; Ribuan ‘panji yang bakal datang membela nantinya’ belum tentu benar,
Dan ‘satu’ yang terasing tak bererti salah.
‘False flag- false light’.
Semoga ‘diam’ tak membuat kita keliru,
celaru, dan ‘perlahan-lahan jadi jemu’.
Bahkan keraguan adalah azab bagiku, Rob. Ketidakpedulian-Nya menyebabkan ‘jalan buntu’.
Jadi jangan heran, jika ‘serban itu nantinya dapat membalut luka’.

Fahamkan lah; manusia dengan seluruh ‘tingkatan ciptaannya’, tak akan mampu mencapai kesempurnaan. Sempurna yang ada hanyalah ‘sangkaan’. Bayang-bayang muluk dari gelas yang kosong.
Mereka yang kamil, ialah ‘mereka yang ‘tak mencari, tapi terus bergantung’ pada kesempurnaan-Nya’. Al-hayyu; maka ‘tidak lah wujud tajalli, dibenak yang akan mati’. Ada pembendaharaan-Nya, berdiam berselimutkan ‘sirr’.

Kita dah pun bersepakat;
‘Tak semua perkara’ ada penjelasannya,
‘Tak semua kata-‘ bergantung pada abjadnya.
Tetaplah bertemu, menyusun huruf pada siapa saja, ‘meski harus mendekat, mengasinglah!’.
“…sungguh beruntunglah mereka yang terasing.”

 

‘Rungkaikan’
Allah bersamamu Rob.

Tamu

Processed with VSCO with a6 preset

Hujan mentakar asfal tapi kenihilan masih hangat berselubung. Raut-raut menjadi payung di vena untuk langkah yang rendam.
Keasingan terhunus dan bayang-bayang kelelahan;
Sementara hidup sedang dinikmati-
Sementara hujan turun dengan tenang.

Puluhan nestapa, dan malam berdengkur.

Jalanan berubah, tempias permata tak terasa. Warna-warna neon melenturkan pekat dan bandar mendongeng refleksi.
Hujan bukan lagi penghalang, justru aroma dan gelorannya membuat jutaan dada menjadi lapang.
Di mana-mana pun, di mana-mana pun sepi hanyalah satu kata untuk majoriti; hujan hanyalah ubat untuk pepohonan yang tandus.

Satu tetes- dua tetes-
Orang-orang berlarian dan
Mengeluh.

Meredah hujan bukanlah perkara kurang siuman di bandar sebesar ini, tapi tak terlihat satu orang gila pun yang sebegitu gilanya untuk berteriak di bawah rintik hujan
Dan tak ada pula yang lebih gila
Dari mereka yang bergadang
Libur setengah bulan melawat kenihilan.

/ April 06, 17.
Pasir Kaliki, Bandung