Ya dan Tidak

Cuba lah berpeluk diri, dan pejamkan matamu. Hening akan datang, tapi kau perlu mukjizat— kata-kata yang kekal, yang Abadi. Tanpanya, kehendak berfikir, diri, fitrah hanya akan membawamu melihat keluasan yang maha asing. Tak terpimpin. Cuma mata rohaniah yang terpana dalam kebijaksanaan yang gelap gelita. Dan perjalanan ini cuma akan buat kau terdampar di atas sahara yang kering. Tak berlangit; tak bertuan.

Bersujudlah, akui kebodohanmu setelah fikiranmu lunak. Batas kebijaksanaan dalam ratio fikiranmu akan membuat kau menemukan kebodohan yang baru, kebodohan yang luhur, dan suci.

Kerana itu kita lebih mengenal sufi ketika dia menyendiri. Al-Ghazali ketika berselubung dalam tenangnya Damaskus. Rumi ketika sema-nya beribu batu lebih jauh daripada Konya ke Bukhara. Atau al Farabi ketika tawafnya melantunkan syair di Ka’bah.

Ya dan Tidak
Ya dan Tidak

Ya dan Tidak

Tak ada kebebasan yang zahir. Sebelum kau menikmati Badar dan Uhud. Sebelum kau cuba memahami mereka yang zuhud. Sidharta yang meninggalkan istana, Musa yang berkelana, Rasulullah yang mengorbankan segala isi dunia.

Peluklah diri dan pejamkan matamu.
Temukan pohon bodi, bukit Sinai dan gua Hira di hatimu. Kebijaksanaan adalah rendah diri, kebodohan berakhir setelah mengenal diri, dan kemenangan adalah mengakui kebenaran.
Tapi kau yang selalu menang, adalah kau yang tak akan berganjak dari puncak Uhud. Kerana-Nya.

Maqam

Yang kau lihat cuma hamparan lautan, dari puncak yang melelahkan, dan berdozen-dozen manusia yang berapungan,
Dalam tidurnya.

Beruntunglah mereka yang sadar,
Yang dapat mengembangkan kedua belah sayapnya menuju langit tak berujung,
Tak bertepi
Tak berkubur

Dan berbahagia lah mereka yang dapat bernafas ke dasar, melihat khazanah, melihat hakikat. Di mana sempadannya adalah semesta, tempat segala-galanya berkumpul!

Tetapi berkabung lah,
Berkabung lah kalian bersama realiti,
Seperti selamanya kota ini akan diselubungi kepedihan,
Menunggu siang dan malam berganti
Menunggu entah apa yang terjadi,
Ketika lautan rohani pun tak mampu untuk direnangi.

/ April 7, 17.
Lereng enteng

Asfal Fana

Telanlah harp,
Lagu-lagu akan membuatmu haru.
Seperti akustika, dan lirik-lirik yang pernah menidurkan.
Di sini, rindu-rindu sedang menderu di bawah awana, berselimut—
berhempasan,
Terlihat langit dan air yang sangat biru.
Di sini, angin berlalu kencang, berdesir seirama.
Sertai lah ia, lalu hanyutkan aku ke dalam dakapmu.

/ April 13, 17.
Pantai Nunggalan

Asy-Syakuur

To Ahasveros

Jalan-jalan yang panjang seolah-olah waktu, yang bersatu dengan struktur transendan. Padu, tapi kelemahannya adalah ia menjadi sungguh perlahan seolah-olah perjalanan adalah potongan-potongan adegan dengan efek slowmo-
Menunda-nunda.
Diiringi rasa ngantuk yang meluap.
Tapi setelah lelah dapat lenyap,
Damai di Asy-Syakuur adalah nikmat yang lebih nikmat dari apa yang kita jumpa di pantai selatan.

Kesunyiannya, haruman-haruman dhamir yang sebenarnya
Kelakar.

Tapi, teman kesadaran adalah kesunyian.
Seperti Surabaya yang
Sendiri.

Setelah sedar rungutan-rungatan berakhir di Asy-Syakuur;
Setelah panas matahari mengelilingi tekstil-tekstil ganjil milik penarik gerabak yang murung,
Setelah itu lah, bisik yang lebih perlahan dari semua ini terdengar,
“Jangan,
Jangan merungut dengan ketentuan-Nya”

Dan kerana itu-lah
Pertama kali kita menjejaki Surabaya
Yang menyambut kita adalah sisi sepinya.

061DE81D-9DCF-48A3-BC7F-CB1FC3123F2F.jpg

/ April 10, 17.
Surabaya

Rabbi (II)

Penghujung malam itu, aku lihat pohon-pohon mengeletar tapi syurga bukan untuknya– bukan untukku—tapi azab bagaikan semalam, sehingga tak satu pun yang tinggal. Tak satu pun yang kekal. Tak satu pun yang setara;
Tapi pohon-pohon mengeletar di penghujung malam lalu aku lihat Engkau.
Adalah wajah-Mu Rabbi,
Kerana wajah-Mu dan demi wajah-Mu,
Aku pun rela melentur,
menjadi abu.

Di Pulau Cindai

Aku terbawa badai,
Di pulau cindai.

Setelah sebatang rokok
Buat mamat eropah,
Dan segulung moroko
Buat anak salang.

Aku merenung ke dada langit,
Meminta darla; meminta yang tenang.
Ketika desir ombak bersarana
Ketika langsurya melebur
Terbakar janji.

Lalu tubuhku rebah
Diantara kashmir
Dan bintang-bintang,

Lalu diriku pulih
Dari jemu yang lama
Menerkam.

/ Mei 18, 15.
Salang

What Youth, and The Dark Forest

Khemah-khemah ditinggal menyepi. Kopi dalam kuali, maggi dengan rasa bateri. Kita kemudian meredah belantara-paranoia, menuju ke satu tempat di mana sungai mengalir dan waktu terasa lambat. Dari puncak yang tiada. Dari ketinggian yang membunuh.

Kita melihat batu-batu membentuk sebuah kolam dengan cahaya-cahaya yang berkilau, jam dua pagi, di atas permukaan yang jernih. Seperti satu tragedi akan bermula dengan santun anarkisme. Membungkam sebuah kerajaan yang menggigit, di sebuah kayangan yang terpinggir.
Lalu rokok-rokok dinyalakan, tubuh-tubuh bersandaran. Dan pekat malam larut dalam perbualan yang genting, tak terkena rasa dingin. Seolah-olah tersesat di rimba,
but it’s okay.

Dalam sekejap, kita terbau harum marijuana dari celahan-celahan pohon langka. Menusuk sebelum hanyut ke dasar; berhembus sebelum hilang kesamaran. Dan sadarkah, yang tetap terang waktu itu hanyalah
Bulan.

/ May 3, 15.
4800 ft, G.Pulai

Mary di Bangla Rod.

Processed with VSCO with a6 preset

Mary di atas meja, mary di dalam lemari, oh mary.
Ada yang memberi salam kemarin,
Di lorong lorong sunyi Bangla Rod
Di atas apungan samudera india-pasific
Yang disedut habis,
Ratusan metafora amerikan
Dengan misai mexikan.

Oh mary,
Penari-penari malam kebosanan
Bintang-bintang mula terpinggir
Dan dosa-dosa
Bagai marak api yang tak sanggup
Bertahan.

Pantai ini cukup memisahkan,
Berjejeran turis namun khayalan tak
Reda.
Liku-liku di Kathu hanya membuat kita
terhantuk ombak yang meng-gila.
Tapi kau tak juga tiba;
Tapi setengah a-baht-d
Hanya untuk polis-polis hampa.

Oh mary,
Ada yang memberi salam kemarin,
Tapi kau tak menjawabnya
Walau dengan satu isyarat
Kecuali tak kau biarkan kami mabuk laut
Menyedut hening di Karon.

/ Patong, Ogos 31.